Follow Me

Selasa, 04 Maret 2014

My Lovely Boyfriend 2

My Lovely Boyfriend Chapter 2

Happy reading guys!!!

***


Ddrrtt…drrrttt…
            Ponsel gadis itu bergetar dan menampilkan nama seseorang yang sangat ia kenal bahkan dalam tiga tahun terakhir dalam hidupnya setelah ia memutuskan untuk bekerja demi membayar kuliah gadis itu sendiri, David Martin lelaki yang juga mempunyai paras menggoda itu adalah sahabat lama yang selalu ada untuk Zie dan dia juga rekan Zie yang selalu menemani saat gadis itu tengah bertugas, dan David sebagai Cameramen sedangkan Zie sebagai Reporter.
            “Ya David?” gadis itu menempelkan benda pipih yang digunakannya sebagai media komunikasi itu disekitar telinganya.
            “Besok kita akan meliput bencana di sekitar Atlanta—kau ingat? Banjir bandang itu?” gadis itu berfikir dan mengangguk menanggapi ucapan dari David.
            “Ya, aku mengingatnya. Memangnya besok jam berapa? Aku ada kuliah—besok.”Zie mendengar David menghela nafasnya.
            “Produser meminta kita untuk meliput besok jam tujuh…” coffe yang tengah Zie teguk itu seketika membuatnya tersedak dan langsung mengambil tissue yang berada didalam tasnya dan juga menaruh gelas berisikan coffe sialan yang membuatnya tersedak itu diatas mejanya.
            “What the hell!!” sergah Zie langsung dengan spontanitasnya, gadis itu mendengar bahwa David bergerutu tidak jelas disebrang sana, “Aku ada kuliah jam Sembilan David!!” serunya dengan sedikit lantang, gadis itu memasukkan tissue nya kembali kedalam tas bahunya dan beranjak untuk menuju kearah mobilnya, jika ia tidak segera pulang sekarang maka ia tidak akan mendapat waktu untuk memejamkan matanya walaupun dia setidaknya memang enggan untuk berada didalam rumah terkutuk itu kembali namun apa daya—gadis itu tidak mempunyai banyak pilihan yang bisa ia pilih sekarang.
            “Ya aku tau tapi—“
            “Aku tidak punya pilihan.”Zie bisa merasakan bahwa David mengangguk setuju disana lalu gadis itu menghela nafasnya dan menaruh tasnya itu kedalam mobilnya dan dirinya bersender didaun pintu mobilnya sebelum memasuki mobil itu.
            “Right!Kau tepat cantik, dan jangan lupa besok jam 7 kau sudah harus berada disini.” Zie mengangguk, “Jangan membuatku menunggu ataupun membuat produser kesal karena aku tidak akan—“ pandangan lensa mata Zie menangkap sosok yang sangat familiar didalam pandangan matanya, telinganya tidak bisa merespon apapun yang David tengah katakan sekarang, “Zie! Kau masih mendengarku atau—“
            “Ya David, aku ada tugas sekarang!” seru Zie berbisik saat mengatakannya.
            “Tugas apa?”
            “Aku menemukan berita bagus untuk besok pagi.” Ujar Zie dengan senangnya, tergambar dengan jelas dikedua sudut bibirnya bahwa kini ia tengah tersenyum sekarang.
            “Oke, kau harus mengirimkan data berita itu padaku, aku tidak mau terjadi kesalahan apapun lagi seperti beberapa bulan lalu.”Ya, Zie pernah membuat David sangat kesal padanya karena gadis itu mendapatkan berita yang memang bagus namun gadis itu sendiri yang menuliskan beritanya dengan bahasa yang terlalu membuat para pembaca bisa langsung naik darah karena terjadi beberapa penekanan disetiap kata yang tertulis diadalam berita itu, dan sempat mendapat sebuah tuduhan mencemarkan nama baik sehingga produser sangat marah pada Zie dan hendak memecatnya namun David menolong gadis itu dengan mencoba membuat produser bahwa kejadian seperti itu tidak akan terulang kembali.
            “Ya, aku menyayangimu.”Zie menutup telfonnya dan menekan icon camera yang ada didalam ponselnya itu.“Kita lihat saja…” gumam Zie.

*******

            Pagi yang sangat mencerahkan dan malam yang sangat melelahkan bagi seseorang yang kini masih menutup matanya, meskipun pada kenyataannya bahwa dia telah bangun namun tubuhnya berkata bahwa ia membutuhkan beberapa menit lagi untuk kembali tertidur.
            Tiba-tiba suara pintu yang terbanting membuatnya membuka mata, dengan langkah yang kesal dan tidak berirama seorang lelaki memasuki kamar itu dan berdiri disamping ranjang besar nan megah itu. “Get up!! Jerk!” dengan malas dia langsung membuka matanya dan terduduk diatas kasurnya.
            “Apa?” tanyanya.
            lelaki itu melemparkan sebuah majalah yang menampangkan fotonya dengan sangat jelas dicover majalah tersebut, matanya langsung menangkap headline yang terbaca dengan jelas diatas kertas sialan itu. Justin Bieber at The Niclub with his ‘new’ girl.Mata lelaki itu langsung menatap kearah lelaki yang kini tengah menaikkan kedua alisnya meminta kepastian.
            “Kau tidak bisa mengelak nya Bieber. Ini sudah menjadi trending pada satu jam terakhir ini, dan kau tidak bisa mengelaknya bahwa bukti-bukti video dan foto ini sangat nyata dan aku pikir—“
            “Shut up your fucking mouth!!” bentak Justin—Justin Bieber, lelaki yang memjadi superstar 7 tahun lalu itu, kini karirnya benar-benar akan meredup mengingat bahwa lelaki itu selalu saja menciptakan sebuah kontroversi dan membuat masalah-masalah baru didalam hidupnya. “Berita mana yang mengunggah ini?TMZ?!!” Tanya Justin.
            Lelaki itu, Scooter Braun—manager Justin menatap kesal pada lelaki itu, sudah sangat berani dan tidak tau sopan santun memang namun setidaknya Scooter memang masih menyayangi Justin seperti saat mereka baru bertemu hanya saja lelaki itu sedikit kecewa mengingat bahwa Justin nya yang dulu kini telah beribah sepanjang tahun bahkan setiap detiknya, dan semua itu karena pergaulan dengan teman yang selama ini salah Justin pilih serta ketertekanan jiwa lelaki itu karena selalu diBully oleh haters nya namun setidaknya Justin sama sekali tidak memperdulikannya—memperdulikan kata-kata terkutuk dari hatersnya, dan kesabaran yang selalu dia genggam itu kini seakan memudar namun tentu saja Justin masih sangat beruntung beliebersnya masih menyayanginya dan juga Ibunya—Pattie yang selalu bisa menghibur Justin dan membuat lelaki itu menyadari siapa dirinya dahulu.
            “No. its StarLight!” seru Scooter menandai nama label berita internasional itu, Justin menyipitkan matanya dan tersenyum sinis mendengar nama label itu, lelaki itu tidak menatap kearah Scooter.
            “Apa perempuan yang bernama Lisa yang menjadi host di acara berita itu?” Bukan, Scooter menggeleng.Lelaki itu mendapatkan berita itu pagi ini dan menyelidiki siapa yang menyebarkannya dan lelaki itu menemukannya.
            “David! David Martin.” Ujar Scooter membenarkan, Justin langsung menyilakan selimut yang membungkus tubuh nya yang hanya berbalut boxernya dan berjalan menuju kearah kamar mandi tanpa memperdulikan Scooter yang masih menatap kesal padanya.“Hay Dude!! Kau ada showcase hari ini di Los Angeles!!” Scooter berteriak dari luar dan Justin sama sekali tidak menggubris apapun yang lelaki itu katakan.
            Lelaki itu berdiam menekan kedua tangan menyangga tubuhnya disekitar wastafel yang berada tepat dibawah sebuah kaca yang besar, Justin menatap dirinya yang kini sudah sangat berubah. Lelaki itu kini harus kembali menerima bully-an dari hatersnya setelah berita ini, dan sialnya adalah karena The Niclub adalah sebuah Club malam di New York yang sangat terkenal dengan wanita-wanita jalang dan pesanan kamarnya, dan memang Justin memesan kamar serta memesan satu wanita dari sekian banyak disana dan Justin sudah meminta pihak mereka untuk merahasiakan kedatangan lelaki itu dengan membayar lebih namun Justin sejujurnya belum sempat menyentuh wanita yang ia minta hanya menciumnya saja karena wanita itu menangis dan itu membuat mood Justin beranjak lebih buruk daripada sebelumnya.
            Lelaki itu menghantamkan tangannya dengan kesal kearah kaca dan membuatnya retak, uangnya terbuang dengan cara Cuma-Cuma dan tidak mendapatkan apa yang ia inginkan dan sekarang namanya semakin melejit menjadi lebih terkenal namun bukan karena karya-karyanya lagi namun karena semua scandalnya kini bertambah lagi.
            “David!” gumam Justin menatap kearah dirinya sendiri dari pantulan kaca yang sudah retak itu, “Kita tunggu saja semua permainanmu…” lanjut Justin lalu sekali lagi menghantamkan tangannya kearah kaca dan kini kaca itu sudah pecah dan terlepas dari tempatnya.

*******

            “kau tau Semua ini demi tugas ini dan jangan membuatku jengkel atau aku akan menghajarmu David!!” lelaki itu terkekeh mendengar ucapan yang terlontar dari bibir merah merona milik Zie itu, lelaki itu menghidupkan kembali mesin mobilnya namun sekali lagi ia gagal.
            “Berhenti mengoceh terus Zie, atau kita tidak akan segera pulang!”Zie menggerutu dengan bibir yang sudah mengucapkan beberapa kalimat kutukan untuk David atau untuk produsernya karena memberikan mobil rongsokan untuk bertugas, dan kini mereka berdua tengah mengalami kesialan karena mobil itu mogok ditengah jalan kembali.“Cepat Zie, aku tidak merasakan mobil ini bergerak!” teriak David dari arah kemudi, Zie berdiri tegap dan menghampiri David. “What?”
            “Fuck!! Get Out!” teriak Zie tepat didepan wajah lelaki itu, “Seharusnya aku yang mengatakan itu, aku wanita David kau yang seharusnya mendorong mobil sialan ini dan segera pulang. Kau tidak merasakan bahwa aku sudah benar-benar lelah—“ lanjut Zie dengan merubah ekspresinya menjadi lebih menyedihakan, David menghela nafasnya lalu membuka daun pintu mobil itu dan berjalan menuju kearah belakang mobil dan mendorongnya sedangkan kini Zie yang berada dijok kemudi.
            “Hey nyalakan mobilnya!!” teriak David yang kini menjadi kesal karena Zie mulai membalaskan dendamnya karena ulah David yang tidak mau mengalah padahal dia faktanya itu seorang lelaki.Zie menyalakan mobilnya dan giginya terlihat saat sebuah senyuman mengembang dikedua sudutnya, David melotot memandang mobil yang sudah melaju didepannya itu, “ZIE!! AWAS KAU!! HEY BERHENTI BODOH!!” teriak David dengan kesal saat mobil itu sudah kembali seperti semula namun dengan segera Zie menancapkan gas dan meninggalkan David.
            Lelaki itu terdiam dan melipat kedua tangannya disekitar dada bidangnya dan menatap mobil yang kini mulai mundur.

******

            “David!” seketika mereka berdua menghentikan tawa mereka saat ternyata produser mereka memanggil nama David. Lelaki itu melepaskan rangkulannya dibahu Zie dan berjalan mendekat kearah lelaki paruh baya itu, menatapnya dengan penuh Tanya. “Ikuti aku!” serunya, lelaki itu menatap kearah Zie yang memberikan tatapan I don’t know.
            Zie melihat punggung David yang semakin tidak terlihat, gadis itu menjadi sangat cemas dan sangat bingung sekarang. Tidak mungkin produsernya akan memanggil salah satu diantara mereka dengan raut wajah yang sangat dingin sedingin tadi jika tidak ada masalah yang sangat serius, beberapa detik berikutnya Zie melihat bahwa produsernya itu keluar namun tanpa David dibelakangnya, what’s going on?
            Gadis itu melangkah mendekat kearah ruangan yang dikhususkan untuk pengunjung ataupun rapat, sebenarnya Zie tidak mau menguping masalah ini namun karena ia terlalu khawatir pada David dia mengambil langkah ini.
            “Kau lebih brengsek dariku!!” teriak David dari dalam ruangan itu.suara itu langsung membuat Zie berfikir memang keadaannya tidak sedang stabil.
            “Oh—Ya?”
            “Ya, dan kau seharusnya malu karena berita-beritamu!! Kau pecundang yang mendapatkan keberuntungan ditemukan oleh manager sebesar Scooter! Namun sialnya bagi Scooter menemukanmu untuk dijadikannya artis!!” gertak suara David, Zie mengintip dari balik pintu kaca yang tidak cukup jelas dan menemukan bahwa tangan seseorang sudah mengepal dan dengan segera Zie membuka pintu itu dengan gerakan reflek.
            “Bieber!!” gumam Zie menatap kearah lelaki yang tengah memegang kerah kemeja yang David kenakan itu dengan satu tangan sedangkan tangannya yang lain sudah mengepal untuk menghantam wajah David jika saja Zie tidak datang menggaggunya.
            Justin melepaskan tangannya yang menyentuh David dan menatap kearah gadis yang sama sekali tidak ia kenal itu.
            “Ada apa ini?kau ada masalah dengannya Dav?” lelaki itu menggeleng dengan tatapan tidak tahunya sedangkan Justin menatap jengah kearah mereka berdua.
            “Ya, dia punya masalah denganku!” sergah Justin menjawab.
            “Masalah apa?Aku tidak tau, bahkan jika berurusan denganmu aku pun enggan untuk menerimanya!!” balas David dari belakang Justin.
            “Bullshit!!” ujar Justin.
            “Hey Shut Up your mouth Bieber!!” teriak Zie. Kini Zie sudah sepenuhnya berada didalam ruangan itu bersama dengan David dan juga Justin.
            “Kenapa, memang benar begitu! Dia menyebarkan berita tentangku yang ia tulis dimajalah murahan itu dengan cover wajahku dan menampilkannya di televise!!”
            Zie terkekeh dengan senyuman sinisnya menatap kearah Justin, “Bukankah itu memang wajar karena kita memang adalah paparazzi.Seorang yang ‘sangat’ kau benci yang selalu memberikan berita-berita yang terhangat dan menjadi bahan pembicaraan dan memberikan info untuk para penggemarmu itu, dan seharusnya kau berterimakasih karena para paparazzi menjadikanmu sebagai sumber, kau semakin terkenal.”Ujar Zie dengan suara yang terlalu mencoba menyindir Justin dan lelaki itupun merasakannya.
            “Ohh Ya, aku hampir melupakan bahwa ‘mereka’ adalah orang yang sangat penting didalam hidupku dan memberikan para penggemarku informasi.” Ujar Justin membalas ucapan yang Zie lontarkan, “tapi tidak jika hanya menyajikan informasi palsu demi uang dan mereka bilang aku yang menuai kontroversi!!” lajut Justin dengan tenang namun penuh penekanan.
            “palsu?” ulang Zie, gadis itu mendekat kearah Justin, sungguh gadis itu tidak pernah takut pada siapapun apalagi pada Justin Bieber yang kini berada didepannya itu. “Kukira berita pagi ini tidak palsu!! Kau keluar dengan seorang wanita jalang dan mencoba mencumbunya namun dia menangis, dan apa yang kau lakukan didalam club terkutuk itu? bercinta atau—umm apalagi yang lebih pantas untuk disebut?” ujar Zie. Skakmat.Justin tidak bisa berbicara banyak lagi untuk mengelak.“Aku tau kau datang kesini karena mendengar berita tadi pagi yang pastinya akan membuat para penggemarmu itu beralih menjadi hatersmu dan aku yakin para orang tua dari penggemarmu tidak akan sudi anak mereka mengidolakan lelaki sepertimu.” Ujar Zie. Tangan Justin sudah mengepal dan David mengetahui itu, Zie pun mengerti dengan hanya memandang kearah raut wajah Justin yang sangat merah menahan marahnya padanya kali ini.
            “Oh sweetheart!!Siapa namamu?” Tanya Justin.
            “Zie!Tapi maaf aku bukan dari sekian wanita jalangmu.”Ujar Zie menyindir Justin dan semakin membuat marah Justin menjadi.
            ohh ya? Dan kau akan menjadi salah satu diantaranya sebentar lagi—Justin kini bergumam didalam hatinya. “Oh ya? Jangan khawatir, kau tidak akan!” ujar Justin.
            “So, apa yang kau inginkan dariku?Ataupun dari Zie.”Tanya David yang sedari tadi mengamati argument antara Justin dan Zie yang berada tepat didepan matanya itu.
            “Sebenarnya aku hanya ingin menemui orang yang membuat berita itu,” ujar Justin tanpa memandang kearah David yang berada disebelah kanan gadis yang mengaku bernama Zie itu, Justin mengamati Zie dari atas sampai bawah dan gadis itu tidak termasuk kedalam kriteria Justin, namun melepaskan gadis itu begitu saja setelah ulahnya yang sangat membuatnya kesal ini Justin seharusnya berfikir kembali. “Tapi sepertinya aku salah orang…”
            Zie langsung bisa mencerna kalimat itu, gadis itu tersenyum sinis kearah Justin, “Ya bukan David memang, tapi aku…aku yang menemukanmu tadi malam, jadi secara professional aku menyampaikan berita yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, dan sudah seharusnya kau juga professional dengan menerima beritamu yang baik atau yang buruk, bukan hanya protes dan protes!!”
            “Aku punya hak!!” potong Justin.
            “So Me too…” jawab Zie dengan santainya.
            Justin menghembuskan nafas nya dengan kesal, “Oh oke, thanks.”Justin mengukirkan senyuman paksanya lalu meninggalkan mereka berdua.
            “Dia sudah gila!!”
            “Memang!” seru Zie setuju dengan gagasan yang David berikan.
            “Kau harus berhati-hati Zie!” ujar David mengingatkan, gadis itu mengangguk.
            “Always…tapi sayangnya dia sangat pengecut dan tidak punya nyali.”Ujar Zie berkomentar, gadis itu menghempaskan bokongnya disofa merah yang berada disana, menyenderkan kepalanya disofa itu.“Dan aku tidak sudi berurusan dengannya kembali.”

********

Bersambung hehehe:v
Sorry ngepostnya lama soalnya lagi ujian praktek:p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar